apa ada ya orang di dunia luar sana yang mirip ma oMi?0___0?
Kamis, 05 Juli 2012
jadi mikir
Minggu, 01 Juli 2012
Jumat, 22 Juni 2012
Kamis, 21 Juni 2012
omi.miniie [sebuah omongan gag penting lewat tengah malam jum'at]
tau gag sih ma yg punya nama Shim Chang Min ?
hu'um, yg kulitnya paling gelap itu . .
iya, yg paling tinggi dibanding anggota yg lain (ups, sekarang anggotanya cuma HoMin aja kaliiiiiii) *btw si Chang Min tingginya 186cm lohhhh
eeeeemmmmmm.....*mo ngomongin apa yahhh??
kalo aku cuma bilang dia ganteng, badannya bagus, suaranya bagus, terkenal dari dulu, bla bla bla la la la etc, kayakanya gag seru dehhhh O______o
pengen cari yg beda . .
- - - - - - -
Chang Min ini kadang dipanggil Minnie..wahh kog pas yaa..aku jg suka klo ada yg manggil Omi Minnie *tapi kayaknya gag da yg manggil gitu dehhh
so what gitu lohhh . . . kali aja suatu hari ada yg manggil gitu U_____u sukur" CM yg manggil aku pake tu nama *ngigau
Jumat, 10 Juli 2009
Di Ujung Jalan
“ Ma... itu rumah dek Sarah. ”
Deg! Aku terkejut sekali ketika Mirna, putri terakhirku mengucapkan kalimat itu. Simpel memang. Tapi yang membuatku cukup risau adalah saat ia mengucapkannya sambil telunjuk mungilnya menunjuk ke satu arah. Makam desa! Ya, tak salah lagi. Makam yang mungkin usianya lebih tua dari usia ibuku. Tapi penduduk desa masih menggunakannya.
Kenapa harus makam desa itu yang harus Mirna tunjuk? Kenapa bukan bangunan atau tempat lain? Aku cukup khawatir. Kepalaku sedikit pusing. Dinginnya udara malam kini lebih menusuk dari menit-menit sebelumnya.
“ Ru...rumah dek Sarah? ”
“ Iya Mah... di situ. ” Mirna masih menunjuknya. Kali ini ia menatap tajam mataku. Karena ia merasa aku tak mempercayai perkataanya.
“ Bukan sayang. Itu bukan rumah dek Sarah. Rumah dek Sarah ada di Semarang. ” Ucapku selembut mungkin sambil menurunkan acungannya.
Memang itu sebuah rumah. Rumah tempat peristirahatan terakhir. Saat nafas berhenti melakukan tugasnya nanti. Saat tubuh tergolek tak berdaya. Dan saat raga tanpa jiwa harus kembali ke tanah.
Aku jadi teringat dengan almarhum suamiku. Dua tahun silam. Saat kandunganku menginjak bulan ke sembilan. Sebuah kabar dari Aceh. Sungguh tak pernah kuharapkan waktu itu. Selama ini aku berharap suamiku bisa pulang saat aku melahirkan nanti. Memang benar ia pulang. Namun ia pulang tanpa nyawa. Peluru dari pasukan GAM menembus dadanya. Ah... sudahlah. Aku tak mau mengingatnya.
Aku hampir sampai di depan puskesmas. Tapi rasa-rasanya langit tak mau berhenti menangis. Kukuatkan simpul jarik yang kugunakan untuk menggendong anakku. Mata bulatnya melihat keluar kaca taksi. Kata ibuku matanya persis seperti mataku waktu kecil. Tapi sekarang mata minusku sering terlihat lelah.
Taksi dihentikan. Supir itu lalu menoleh ke arahku.
“ Apa perlu saya antar sampai ke dalam? ”
“ Tidak usah. Aku sudah membawa payung. Berapa? ”
xxxXxxx
“ Assalamu’alaikum. ”
“ Wa’alaikumsalam. Sudah pulang Rat? Kok larut-larut begini? ”
“ Iya bu. Dari tadi siang Mirna demam, jadi saya mampir ke puskesmas. Ngantrinya lama. ”
“ Lha wong musim hujan begini, ya rame. Naik apa kamu? ”
“ Naik taksi dari rumah. Tapi dari puskesmas kesini naik becak. ”
“ O, ya! Tadi adhimu Ratih nelpon. Baru saja. ”
Ratih??! Ada apa malam-malam begini??
“ Katanya si Sarah panas, demam, dan terus ngigau. ” Cerita ibu seakan tahu jalan pikiranku yang penasaran karena Ratih menelpon malam-malam.
“ Ibu kok sedikit khawatir ya ndhuk. Apa ibu ngusul ke Semarang saja?! ”
“ Ndak usah. Wong hujannya gak berhenti-berhenti gini. Kalau memang perlu ya besok saja. Ibu juga butuh banyak istirahat. ” Aku duduk di sebelah Ibu di atas amben.
“ Iya. Anakmu sudah tidur ndhuk? ”
“ Sudah. Pulang dari puskesmas tadi langsung tidur. Panasnya sudah mulai turun. ” Aku mulai memijit bahu ibuku. Aku senang melakukannya. Dari kecil aku sudah terbiasa.
“ O, ya! Tadi Mirna juga sempat ngigau bu. ”
“ Ya, mungkin karena panasnya. ”
Sejenak suasana hening mengetuk malam kami. Hujan masih turun. Tapi mungkin tak sederas tadi. Sebuah paduan suara dari hewan-hewan malam mulai terdengar. Angin dingin masih sesekali masuk melalui celah-celah anyaman bambu dinding belakang rumah kami.
Ibu menguap beberapa kali. Kubiarkan suara detak jam dinding berdentum sampai di telinga kami. Telinga-telinga yang begitu berharga. Yang mempunyai bulatan kecil mutiara. Yang jika lapisan mutiara itu tergores sedikit saja, maka sang pemilik tak akan pernah mendengar apa-apa.
Kring.. kring... Telepon berbunyi.
“ Halo... ”
“ Halo! Ini siapa? Mbak Ratna? ”
“ Ratih..?! ”
“ Mbak, ini Sarah tadi ayan. Aku sekarang di rumah sakit. Aku... ”
“ Ya sudah. Mbak nanti subuh berangkat kesana. ”
xxxXxxx
Aku turun dari taksi. Dengan dua tas yang kujinjing dan ibu yang meng-gendong anakku. Aku melintasi jalan. Kami memasuki sebuah rumah yang tidak bisa dikatakan besar lagi ukurannya.
Beberapa orang keluar masuk rumah itu. Mengucapkan besar bela-sungkawanya kepada pemilik rumah. Ratih dan suaminya yang berbaju serba hitam menyambut kami dengan tangisan panjang.
“ Ma, dik Sarah mana? Kok nggak sama tante Ratih? ” Mirna yang tadi pagi baru turun panasnya bertanya padaku. Sebuah pertanyaan yang me-nambah sedih keluarga adikku. Sebuah pertanyaan yang jawabannya sulit untuk kujelaskan kepada gadis cilik yang belum mengerti akan arti hidup.
xxxXxxx
“ Sepertinya harus dibawa ke rumah sakit daerah, bu. ”
“ Apa harus sekarang, dok? ”
“ Secepatnya. Karena demamnya semakin meninggi. Ini tidak wajar. ”
Aku cukup khawatir dengan keadaan anakku. Akhirnya kuputuskan mem-bawanya ke rumah sakit daerah. Dari rumah Ibu, aku naik taksi. Ya, berdua lagi dengan Mirna.
Melalui licinnya jalan bekas kehujanan. Oh, Tuhan! Mengapa jalan ini hanya satu. Aku hanya tidak suka melewati makam di ujung jalan itu. Tidak, aku harus bisa. Tapi...
“ Ma, kita hampir sampai di rumah ya? ” Mirna lagi-lagi menunjuk makam itu.
Selasa, 07 Juli 2009
पुलांग के मोज़र..
केतेमु टीमें@,, केतेमु रुमः ओर्तु यांग दह लामा मी तिन्ग्गल॥
सेनेंग देह,, बेसोक रेंकानान्य सेतेलाह पेमिलू मी मौ जलन२ माँ रत्नों दान मुन्ग्किन डीसी जुगा इकुत।
यह, वालू लिबुरण इनी तिदक पंजंग, तापी लुमायण बीस पुलांग मजक.
Kamis, 02 Juli 2009
blog baru
enyaknya diisi apah yah??
oh, iyah.. CERPEN!! wajib nih,, jadi laptop ilang cerita masih kesimpen di blog Omi.
t'rus, apa lagi?? cerita nyang seru2.. oke lah.
apa lagi ya??
. . . . . . .
belum kepikiran nih_
tuing, tuing.
O__o



